Dollar

Secara sederhana, di dalam ilmu ekonomi, Hukum Permintaan atau Law of Demand adalah sebuah ‘hukum’ atau ‘perilaku yang dapat ditebak’ tentang hubungan antara permintaan dengan harga. Hukum Permintaan menyatakan bahwa semakin tinggi harga suatu barang, maka permintaan akan semakin rendah, dan semakin rendah harga suatu barang, dengan kondisi yang sama, maka permintaan akan semakin tinggi.

Contohnya adalah jika sebuah semangka memiliki harga 20.000 perbuahnya, mungkin anda tidak tertarik untuk membeli, namun jika harga semangka tersebut diturunkan menjadi 10.000 dengan kualitas dan kuantitas yang sama, anda pasti lebih berminat untuk membelinya, dan semakin banyak orang yang memutuskan untuk membeli.

Terkait dengan hukum ini, ada sebuah fenomena unik tentang perilaku pasar dalam menyikapi sebuah produk. Saya mengambil contoh iPhone yang sudah sangat familiar diantara kita. iPhone, seperti yang kita ketahui memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan smartphone yang lain dengan kemampuan yang sama. Namun iPhone memiliki penjualan yang lebih tinggi dibandingkan banyak vendor lain yang menawarkan smartphone dengan spek serupa dan harga yang lebih murah.

Hadirnya produk-produk dari Apple seperti iPhone, iPad, dll ‘seakan’ mengingkari Law of Demands yang kita bicarakan diatas. Jika kita sekilas memandang, pernyataan tersebut ada benarnya, bagaimana bisa orang lebih memilih iPhone yang harganya lebih mahal padahal dengan spek yang sama dengan smartphone dari vendor lain.

Namun jika kita memikirkan lebih jauh, ternyata apa yang berlaku pada produk Apple tidak menyalahi Law of Demands. yang terjadi disini adalah, produk-produk Apple seperti iPhone memang memiliki ‘Nilai’ yang tinggi di hati banyak orang. Meskipun iphone memiliki spek yang sama (atau bahkan lebih rendah) dibandingkan smartphone dari merek lain dengan harga yang lebih murah, namun masyarakat terlanjur menganggap bahwa iPhone adalah sebuah barang ‘berharga’. Hukum Law of Demand tetap berlaku, bayangkan jika iPhone 5 yang saat ini harganya berkisar 5 juta, dimana anda tidak membelinya karena mahal harganya diturunkan menjadi 3 juta, anda tentunya semakin tertarik untuk membeli kan? dan akan semakin banyak orang-orang yang membeli iPhone 5.

Ok, this is clear, Law of Demand selalu berlaku, namun faktor yang menyebabkan meningkat atau menurunnya permintaan tidak selalu bergantung pada harga, tapi juga kualitas, dan nilai-nilai lain.

Berbicara lebih jauh, menjadi pertanyaan tersendiri, mengapa iPhone yang memiliki spek yang sama dengan handphone lain namun memiliki harga yang bisa sampai 3 kali lipat lebih mahal, memiliki ‘nilai’ yang tinggi di mata masyarakat? Inilah perilaku manusia yang lebih kompleks, yang sering kali tidak bisa ditebak.

Manusia tidak selalu menilai sesuatu dari satu faktor, bahkan manusia tidak selalu menilai sesuatu dari sebuah faktor yang riil. Manusia memiliki perasaan yang mendominasi perilakunya dalam bertindak, sering kali perasaan ini tidak ‘rasional’ dan menganggap sesuatu lebih berharga daripada yang lain tanpa suatu alasan yang jelas. Terkadang karena gengsi karena ingin dianggap ‘Prestise’, beberapa yang lain memiliki kepuasan tersendiri, dan beberapa yang lain hanya sekedar ikut-ikutan tanpa mengerti nilai kualitas dari sebuah produk.

Yang menjadi masalah adalah, sering kali, meskipun tidak selalu dapat ditebak, perilaku manusia dapat dimanipulasi. Ask again to yourself, kenapa iPhone terasa begitu berharga? Sejak kapan anda mendapat pemahaman seperti itu? sulit menjawabnya bukan? Pernahkah terfikir di dalam diri anda bahwa anda sebenarnya telah termanipulasi secara tidak sadar? Bukan hanya iPhone tapi juga sepatu Nike anda, baju Armani, parfum Bvlgari, atau apapun. Jika kita kembalikan ke dalam ‘nilai kualitas’, mungkin anda tidak harus selalu membayar semahal itu untuk mendapatkan berbagai hal dengan kualitas sama.

Unik ya perilaku manusia, selalu ada berbagai faktor yang tidak selamanya dapat diukur. Dan sering kali manusia terjebak dalam faktor-faktor semu tersebut, melakukan segala cara untuk dapat memiliki segala sesuatu yang ‘tampak berharga’ dengan cara-cara yang tidak baik, bahkan sering kali bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Yap sekian cuap-cuap curahan pemikiran dari saya. Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat